Surabaya - Polsek Tegalsari Surabaya berhasil mengungkap jaringan pencurian kendaraan bermotor (curanmor) yang telah beraksi di berbagai titik di Surabaya. Dalam konferensi pers yang digelar pada Jumat (21/3/2025), polisi mengumumkan penangkapan dua pelaku yang telah mencuri di total delapan Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Kapolsek Tegalsari, Kompol Rizky, menjelaskan bahwa satu pelaku YP (22) dan RN (22) beraksi di enam TKP, sementara pelaku RN melakukan pencurian di dua TKP. Keduanya menjalankan aksinya secara terpisah dengan modus operandi yang sama—menyasar motor yang tidak dikunci dengan baik.
"Mereka menggunakan metode hunting, berkeliling mencari kendaraan yang ditinggalkan pemiliknya tanpa pengamanan ekstra. Setelah menemukan target, motor langsung dibawa kabur," ujar Kapolsek.
"Saat beraksi, pelaku ketahuan oleh tetangga korban. Warga langsung meneriaki maling dan mengejar pelaku," jelas Kapolsek Tegalsari.
Beruntung bagi pelaku, anggota kepolisian yang sedang berpatroli kebetulan melintas di lokasi kejadian dan segera mengamankan tersangka sebelum amuk massa terjadi.
Kompol Rizky mengungkap bahwa motor hasil curian tidak digunakan sendiri, melainkan dijual kepada seorang penadah yang kini masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Menurut keterangan polisi, harga jual motor tergantung kondisinya.
"Ada satu orang yang menjadi target kami, yang diduga sebagai penadah. Motor yang bagus bisa dihargai Rp 3 juta, sementara yang kondisinya kurang baik dijual lebih murah," ungkap Kapolsek.
Transaksi penjualan dilakukan secara tunai di berbagai titik di Surabaya, dan polisi kini tengah menelusuri jaringan lebih luas yang mungkin terlibat dalam sindikat curanmor ini.
Salah satu motor yang dicuri milik seorang pengemudi ojek online (ojol). Saat kejadian, korban tengah bekerja dan memarkir motornya di pinggir jalan untuk membeli makanan. Ketika kembali, motornya sudah raib.
Kehilangan motor bagi driver ojol bukan hanya sekadar kehilangan kendaraan, tetapi juga sumber penghasilan utama mereka. Polisi pun mengimbau agar masyarakat lebih berhati-hati dalam memarkir kendaraan dan menggunakan kunci tambahan untuk mencegah pencurian.
"Kami mengingatkan agar masyarakat lebih berhati-hati dalam memarkirkan kendaraannya. Gunakan kunci ganda dan parkir di tempat yang aman," tegas Kapolsek Tegalsari.
Saat ini, polisi masih mendalami jaringan pencurian kendaraan bermotor ini dan berupaya mengungkap apakah ada keterlibatan sindikat yang lebih besar di Surabaya dan sekitarnya.
Dalam pemeriksaan, tersangka RN mengaku telah beraksi di enam TKP, dengan tiga lokasi di Surabaya dan tiga di Sidoarjo. Ia mengklaim pencurian dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Gak mesti dalam seminggu. Sebulan kadang dapat satu motor, tapi kadang bisa empat kali," ujar RN.
Sementara itu, pelaku YP mengaku telah mencuri di dua TKP, yakni Wiyung dan Tembok Dukuh. Ia beralasan hasil penjualan motor digunakan untuk membayar utang.
"Hasil penjualan buat bayar bank titil. Enggak judi online atau foya-foya," ungkap YP.
Tersangka juga mengaku menggunakan kunci T untuk membobol kendaraan, sebuah teknik yang ia pelajari secara autodidak dan hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 detik untuk menyalakan motor tanpa kunci asli.
"Motor yang sulit itu, yang keyless pokoknya," tambah YP.
Kasus ini menjadi peringatan bagi masyarakat agar lebih waspada dalam menjaga kendaraan. Kepolisian berkomitmen untuk meningkatkan patroli di area rawan dan menindak tegas para pelaku kejahatan jalanan.
Masyarakat diimbau untuk menggunakan kunci ganda, memasang alarm, dan memilih lokasi parkir yang aman. Jika melihat tindakan mencurigakan, segera laporkan ke pihak berwajib agar kejadian serupa bisa dicegah
(Sam)